Jumat, 27 April 2012

Obligasi SMF dan Pertamina

Obligasi korporasi baru laris manis. Satu yang diserbu pemodal adalah obligasi terbitan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). Selama masa penawaran awal (bookbuilding), 15-29 Maret, penawaran obligasi berkelanjutan (PUB) I SMF tahap II mencatat permintaan beli Rp 1,904 triliun, jauh di atas target awal, Rp 750 miliar. SMF memutuskan, nilai emisi sebesar Rp 1,25 triliun.
Direktur Utama SMF Raharjo Adisusanto menuturkan, ada tiga seri dalam PUB I tahap kedua. Seri A tenor dua tahun, terjual Rp 255 miliar, dengan kupon 7,1%. Seri B berjangka 3 tahun, terjual Rp 157 miliar, dengan kupon 7,35%. Seri C tenor lima tahun nilainya Rp 838 miliar memberi kupon 7,55%.
Komposisi pembeli obligasi SMF adalah perusahaan asuransi dengan porsi kepemilikan 52%, perbankan (23,2%), pengelola dana pensiun (14,08%) serta reksadana, yayasan dan ritel (10%).
Selain SMF ada PT Pertamina yang akan menerbitkan obligasi dollar AS senilai US$ 2 miliar. Namun, Vice President Corporate Communication Pertamina, Mochamad Harun belum bersedia menjelaskan rencana itu. "Tunggu dululah. Masih dalam proses. Nanti akan diberi tahu," kilah dia, (26/4).
Menurut sumber Bloomberg, Pertamina menawarkan obligasi dua seri. Pertama, tenor 10 tahun dengan yield 5,125%. Kedua, tenor 30 tahun yield 6,25%. Pertamina kabarnya juga sudah menunjuk penjamin emisi yaitu Citigroup, Barclays dan HSBC.
Analis Obligasi PT Mega Capital Indonesia, Ariawan menilai, Pertamina memiliki peringkat utang yang sama dengan Indonesia yaitu BBB-. Tentu ini menjadi nilai lebih bagi mereka. Prospek obligasi ini juga menarik jika Pertamina benar memberi yield sebesar itu. "Investor global akan menyerbu," yakin Ariawan.

Minggu, 22 April 2012

Jajaran Direksi Pertamina Dirombak

Menteri Negara BUMN, selaku pemegang saham PT Pertamina (Persero), melakukan perombakan jajaran direksi PT Pertamina (Persero). Perombakan direksi tersebut melalui surat keputusan No. SK-186/MBU/2012 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Direksi Perusahaan Persoran (Persero) PT Pertamina.

Melalui surat keputusan tersebut, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan selaku pemegang saham mengangkat direksi baru Pertamina masing-masing yakni Chrisna Damayanto sebagai Direktur Pengolahan menggantikan Edi Setianto. Kemudian, Hanung Budya Yuktyanta sebagai Direktur Pemasaran dan Niaga menggantikan Djaelani Sutomo.

Selanjutnya ada Evita Maryanti Tagor sebagai Direktur SDM menggantikan Rukmi Hadi Hartini. Lalu, Luhur Budi Djatmiko sebagai Direktur Umum menggantikan Waluyo.
Chrisna Damayanto sebelumnya menjabat sebagai Deputi Direktur Pengolahan Bidang Operasi Kilang, sedangkan Hanung Budya Yuktyanto sebelumnya sebagai Presiden Direktur PT Badak NGL. Adapun, Evita Maryanto Tagor merupakan Presiden Direktur PT Tugu Pratama Indonesia dan Luhur Budi Djatmiko adalah Kepala Satuan Pengawas Internal.
Berbeda dengan susunan direksi sebelumnya, kali ini, ada jajaran direksi baru yakni Direktur Gas. Posisi ini dijabat oleh Hari Karyuliarto. Sebelumnya Hari Karyulianto menjabat sebagai Sekretaris Perusahaan. "Untuk direksi yang lain masih tetap," ujar Vice President Communication Pertamina, Mochammad Harun.

Adapun, anggota dewan direksi lainnya yaitu Direktur Utama Karen Agustiawan, Direktur Pengembangan Investasi dan Manajemen Risiko M. Afdal Bahaudin, Direktur Hulu M. Husen dan Direktur Keuangan Andri T. Hidayat.

Dihubungi secara terpisah, Menteri BUMN, Dahlan Iskan mengatakan, perombakan ini bukan hal yang mendadak. Pasalnya sudah sejak bulan Maret lalu, Dahlan sudah melakukan pertimbangan terhadap pergantian direksi ini. "Saya tidak mau pergantian direksi jadi ribut. Ini bukan mendadak," kata Dahlan.